Tampilkan postingan dengan label Wireless Mikrotik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wireless Mikrotik. Tampilkan semua postingan

Tutorial Menangkap/Menembak Sinyal Wifi/Hotspot Menggunakan Mikrotik

Apakah Sinyal Wifi Gratis Bisa Ditembak/ditangkap dari Rumah kita? Jawaban nya, Ya tentu saja bisa, walaupun terpisahkan dengan jarak yang cukup jauh. Nah, dari pertanyaan tersebut saya akan berbagi sedikit cerita tentang bagaimana caranya untuk menangkap/menembak sinyal WiFi gratis dari kantor saya ke kos.

Di kantor baru saya terdiri dari bangunan 2 lantai, dimana setiap lantai dan tiap beberapa ruang dipasang Wireless Akses Point dengan mode open (tanpa password). Jadi siapa saja bisa konek ke WiFi ini asalkan bisa menangkap sinyal nya. Kebetulan kos-kosan saya tidak terlalu jauh dari kantor, hanya berjarak 300 meter. Jarak ini saya ukur menggunakan Google Earth.


Nah, muncullah pertanyaan, apakah sinyal wifi gratis kantor dapat ditangkap dari kos? Daripada penasaran, saya coba saja untuk membuktikannya.

Disini saya coba tangkap sinyal wifi nya dengan menggunakan perangkat Mikrotik SXTG-2HnD.


Perangkat mikrotik ini saya pilih karena bentuknya yang mungil dan simpel, serta sudah tertanam (embedded) antenna 10 dBi di dalamnya. Selain itu, SXTG-2HnD dipersenjatai 1 interface wireless dengan daya penguatan (wireless Tx power) 32 dBm atau setara dengan 1,58 Watt. Sehingga perangkat ini mampu menjangkau sinyal dengan jarak jauh hingga 5 km.

Pertanyaannya, kenapa harus menggunakan perangkat yang punya jangkauan sinyal jauh hingga 5 km untuk menangkap sinyal di jarak pendeh 300 meter? Karena koneksi wireless ini bukanlah point to point, dan juga perangkat AP di kantor adalah perangkat indoor yang jangkauan sinyal nya terbatas tidak seperti perangkat AP outdoor.

Oke, kita mulai saja Tutorial Menangkap/Menembak Sinyal Wifi/Hotspot Menggunakan Mikrotik. Berikut topologi jaringannya :

  

Pada topologi ini saya menggunakan 2 buah perangkat Mikrotik yaitu :
1. Mikrotik SXTG-2HnD diset sebagai Transparent Bridge (Penjelasan Transparent Bridge disini) untuk menangkap sinyal dan meneruskannya via LAN.
2. Mikrotik RB 751U-2HnD diset sebagai penerima koneksi internet dan menyebarkannya via WiFi

PEMASANGAN MIKROTIK

Kebetulan kamar kos saya ada di lantai 2 dan menghadap langsung ke kantor. Jadi atap kantor saya masih kelihatan dari sini, sehingga Line of Sight (LOS) nya terpenuhi. Mikrotik SXTG-2HnD saya pasang di bawah atap menghadap langsung ke kantor.

Port Ether1 Mikrotik SXTG-2HnD saya hubungkan ke port Ether1 Mikrotik RB 751U-2HnD menggunakan Kabel UTP dengan panjang 10 meter.


Di ujung kabel UTP saya pasangkan juga Power over Ethernet (PoE) sebagai catu daya Mikrotik SXTG-2HnD. Output PoE dan ujung kabel UTP sengaja saya isolasi supaya tidak mudah lepas, karena jika lepas Mikrotik SXTG-2HnD akan mati.

SETTING MIKROTIK

Setelah dipasang, saya coba setting Mikrotik nya dengan konfigurasi sebagai berikut :
1. Mikrotik SXTG-2HnD diseting sebagai Transparent Bridge :
1.1. Lakukan Scanning sinyal WiFi dengan menggunakan Scanner (Wireless --> Wlan1 --> Scan)
Ada 2 sinyal wifi kantor yang tertangkap Mikrotik. Pilih sinyal yang paling kuat, yaitu sinyal yang angkanya mendekati nol. Dalam hal ini saya pilih sinyal Ruang Rapat Arjuna dengan kuat sinyal -86 dB.


1.2. Setting wireless mode menggunakan Station Pseudobridge.
Mode ini digunakan karena mikrotik ini digunakan sebagai transparent bridge. Sehingga agar interface wlan1 bisa di bridge dengan ether1 maka mode yang digunakan station pseudobridge.


1.3. Buat interface bridge


Masukkan interface ether1 dan wlan1 pada port bridge.


Sampai disini Mikrotik SXTG-2HnD sudah diseting sebagai Transparent Bridge, yang akan menangkap sinyal WiFi kantor dan meneruskan koneksi internet ke Mikrotik RB 751U-2HnD via kabel LAN.
  
2. Mikrotik RB 751U-2HnD sebagai penerima koneksi internet dan share internet ke client via Wireless AP.


2.1. Set wireless mode pake AP Bridge
Disini saya tidak gunakan hotspot atau wifi menggunakan password. Koneksi wifi nya open tanpa password, supaya bisa diakses anak-anak kos disekitar saya. Karena saya tau penderitaan anak kos tanpa internet itu ga enak :D


2.2. Set DHCP Client untuk mendapakan IP address dan DNS dari router kantor.
Tambahkan DHCP Client  untuk interface ether1. Masuk menu IP --> DHCP Client


Mikrotik akan dapat IP address dinamis untuk ether1. 
Set IP address untuk interface wlan1. Saya gunakan IP address 10.10.10.1/24


Alamat DNS Server juga akan muncul otomatis.

2.3. Buat DHCP Server untuk memberi IP address secara otomatis ke client
Masuk ke menu IP --> DHCP Server --> DHCP Setup



2.4. Tamahkan setingan NAT = Masquerade supaya client dapat mengakses internet.
- Chain : srcnat
- Protocol : tcp
- Action : masquerade


Oke itu adalah setingan minimal yang bisa digunakan untuk menangkap sinyal WiFi dari tempat lain yang berjauhan.

Sekarang tinggal mencoba koneksi internet nya. Saya coba konek ke WiFi nya via Laptop. Test Bandwidth hasilnya seperti berikut ini :


Selajutnya saya coba buat download, ternyata lumayan juga speed nya, sama seperti di kantor. 


Tapi kadang koneksinya tidak stabil jika cuaca sedang tidak bersahabat, seperti hujan dan angin kencang.


Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik

Pada Artikel sebelumnya sudah pernah dibahas tentang Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Nah, sekarang kita bahas lebih mendalam lagi tentang Bidging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Untuk dapat membangun jaringan wireless point-to-point pada Mikrotik diperlukan teknik Bridging pada interface-interface yang digunakan.

Bridge adalah sebuah perangkat antar jaringan yang merelai frame-frame data dari satu segmen jaringan ke segmen jaringan lain, sehingga menjadikan segmen-segmen jaringan tersebut muncul sebagai sebuah LAN tunggal yang besar, yang disebut sebagai extended LAN atau bridged LAN.

Bridge memiliki kemampuan untuk memproses keputusan perelaian/perutean sebuah frame berada dalam bridge itu sendiri, sehingga transparan terhadap stasiun-stasiun yang berkomunikasi, sehingga disebut juga Transparent Bridge. Penggunaan transparent bridge pada wireless point-to-point Mikrotik dapat dilakukan dengan beberapa mode wireless yang berbeda pada host (akses poin) dan klien (station).

Ada beberapa mode wireless yang dapat digunakan untuk membangun  Wireless Transparent Bridge Mikrotik. Berikut diantaranya :

1. Mode Bridge – Station + EoIP 

Wireless P2P pada Mikrotik dengan menggunakan mode Bridge pada AP dan mode Station pada klien. Station adalah mode standar untuk klien AP yang tidak mendukung L2 bridging. Penggunaan bridge dengan mode ini tidak akan memberikan hasil yang diharapkan. Di sisi lain mode ini dapat dianggap paling efisien dan karenanya harus digunakan jika tidak menggunakan L2 bridging pada station.

Mode ini dapat digunakan di semua protokol nirkabel, sehingga bisa dipadukan dengan perangkat selain Mikrotik. Walaupun tidak mendukung L2 Bridging, namun mode station masih bisa digunakan untuk membangun jaringan Wireless P2P Mikrotik dengan cara memadukan mode ini dengan fitur EoIP. 

Ethernet over Internet Protocol (EoIP) Tunneling adalah protokol Mikrotik RouterOS yang membuat ethernet tunnel (terowongan ethernet) antara dua router pada koneksi IP. EoIP Tunnel adalah protokol Ethernet sejati yang dikemas pada tingkat IP sehingga menggunakan semacam ini terowongan antara AP dan Station, sehingga dapat mengirimkan frame Ethernet penuh.

Teknik ini menyajikan antarmuka virtual pada setiap perangkat (AP dan station) yang dapat dijembatani bersama-sama untuk membuat transparent bridge pada sambungan nirkabel. Interface Ether dan EoIP di-bridge dan interface wlan pada kedua router diberi Alamat IP lokal satu segmen untuk menghubungkan keduanya melalui protokol EoIP. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini:




2. Mode Bridge – Station WDS Station 

WDS adalah mode Station yang mendukung fitur Wireless Distribution System dan L2 bridging. Wireless Distribution System (WDS) adalah sistem yang memungkinkan interkoneksi nirkabel AP pada jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan nirkabel yang akan diperluas menggunakan beberapa jalur akses tanpa memerlukan backbone kabel untuk menghubungkan nya, seperti yang diperlukan secara konvensional. Keuntungan utama dari WDS atas solusi lain adalah bahwa WDS mempertahankan alamat MAC dari frame klien di seluruh koneksi antar AP.

Konfigurasi pada mode ini dengan membuat interface WDS pada AP baik WDS statis maupun WDS dinamis. Kemudian pada AP interface WDS di-bridge dengan Ether, sedangkan pada klien interface Wlan di-bridge dengan Ether. Namun penggunaan WDS pada wireless P2P memiliki beberapa kelemahan, yaitu jika koneksi terputus waktu (delay) untuk kembali terkoneksi lebih lama dan hanya bisa digunakan di RouterOS sehingga tidak mendukung penggunaan perangkat selain Mikrotik.


3. Mode Bridge – Bridge 

Pada mode ini kedua Mikrotik digunakan sebagai AP dengan mode Bridge. Wireless Distribution System (WDS) digunakan untuk membuat komunikasi nirkabel antara kedua AP. Sehingga secara umum hampir sama seperti mode Bridge – Station WDS hanya saja dalam mode ini kedua Mikrotik diset sebagai Bridge.

Dengan demikian kedua Mikrotik memancarkan sinyal sebagai AP dengan SSID, band, dan frekuensi yang sama supaya bisa saling terhubung melalui WDS Link. Karena menggunakan WDS, maka mode ini hanya dapat digunakan antar perangkat Mikrotik. Konfigurasi mode ini dilakukan dengan membuat interface WDS dan mengaktifkan fitur WDS pada kedua AP. Kemudian interface WDS dan Ether di-bridge. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini :


4. Mode Bridge – Station Pseudobridge 

Station Pseudobridge yaitu mode station yang mendukung L2 Bridging namun hanya satu mac-addresss saja yang bisa aktif di belakang AP, jadi hanya bisa untuk satu klien saja. Mode ini dapat digunakan pada semua protokol kecuali Nv2 dan sedapat mungkin dihindari penggunaannya.

Mode ini bisa digunakan jika AP tidak mendukung mode yang lebih baik untuk L2 bridging (misalnya ketika non-RouterOS AP yang digunakan) atau jika hanya satu perangkat harus terhubung ke jaringan melalui perangkat stasiun.

Konfigurasi mode ini dilakukan dengan memilih mode Station-pseudobridge pada klien. Kemudian interface Wlan dan Ether di-bridge pada AP dan stasiun. Konfigurasi Wireless Bridge Mikrotik mode Bridge – Station Pseudobridge dapat dilihat pada Gambar berikut :


5. Mode Bridge – Station Bridge 

Mode Station Bridge hanya dapat digunakan pada perangkat dengan sistem operasi RouterOS. Mode ini menyediakan dukungan untuk L2 bridging pada perangkat stasiun. Mode ini adalah hak milik MikroTik dan tidak dapat digunakan untuk menghubungkan perangkat merek lain. Mode ini aman digunakan untuk L2 bridging dan harus digunakan bila ada alasan yang cukup untuk tidak menggunakan mode station-wds.

Hal ini relatif stabil, tetapi menambahkan cpu dan overhead memori untuk paket forwarding, dan tidak seefisien jika tidak menggunakan bridge sama sekali. Konfigurasi mode ini hampir sama seperti mode Bridge – Station Pseudobridge, hanya mode pada klien saja yang dirubah ke Station Bridge, seperti yang terlihat pada Gambar berikut :


Keempat mode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tidak semua protokol nirkabel mendukung mode tersebut, sehingga ada mode yang tidak bisa digunakan dengan perangkat selain Mikrotik. Perbandingan mode Wireless Mikrotik ditunjukkan pada Tabel berikut :


Mode Wireless Mikrotik
802.11
ROS 802.11
Nstreme
Nv2
station
station-wds

station-pseudobridge

station-bridge

 

Pada Tabel tersebut ada empat mode dan empat spesifikasi protokol nirkabel dimana masing-masing mode mendukung beberapa spesifikasi protokol dan ada yang tidak mendukung. Spesifikasi standar protokol IEEE 802.11 mendukung mode station dan station-pseudobridge saja. Pada spesifikasi protokol ROS 802.11 yang merupakan protokol hak milik khusus RouterOS Mikrotik mendukung semua mode tersebut.

Pada protokol Nstreme sama seperti ROS 802.11, dimana merupakan protokol hak milik Mikrotik dan mendukung semua mode. Sedangkan pada Nv2 yang merupakan perkembangan dari Nstreme yakni Nstreme version 2 mendukung semua mode kecuali station-pseudobridge.

Demikianlah artikel tentang Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik yang saya ambilkan sedikit dari isi Laporan Tugas Akhir saya. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan baru bagi anda sekalian.

Salam,

Rizky Agung Pratama

Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik

Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point merupakan koneksi komunikasi nirkabel antara dua titik, dimana satu host (access point) terhubung hanya dengan satu client (station). Penerapan Wireless Point-to-point (P2P) pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station. Wireless P2P Mikrotik dapat dilakukan dengan metode routing maupun bridging. Perbedaan metode routing dan bridging pada wireless point-to-point Mikrotik adalah sebagai berikut:

Metode Routing

Metode routing dilakukan dengan cara memberikan IP address pada interface Wlan dan Ether dengan segmen jaringan yang berbeda, sehingga untuk menghubungkan dua segmen berbeda tersebut dilakukan routing, baik secara dynamic maupun static. Contoh konfigurasi routing dapat dilihat pada Gambar berikut ini :

Kelebihan dari penggunaan metode routing adalah tidak ada broadcast traffic atau flood yang dapat mengurangi performa jaringan wireless. Sedangkan kekurangannya adalah perlu konfigurasi yang lebih rumit dengan penggunaan lebih banyak IP address.

Metode Bridging

Metode bridging yaitu dengan melakukan bridge pada interface Wlan dan Ether sehingga bisa diberikan satu IP address atau tanpa IP address agar menjadi transparan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini :

Kelebihan menggunakan metode bridging yaitu alokasi penggunaan IP address lebih sedikit, bahkan bisa tanpa IP address. Sedangkan kekurangannya yaitu akan terjadi broadcast traffic atau flood dari tiap client yang dapat mengakibatkan menurunnya performa jaringan wireless sehingga tidak cocok diterapkan pada jaringan skala besar.

Dari kedua metode tersebut baik Routing maupun Bridging sama-sama memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jika anda ingin membangun jaringan Wireless Point-to-point yang transparan bisa menggunakan teknik bridging. Sedangkan jika ingin membangun jaringan Wireless Point-to-Point skala besar dengan client dan station yang banyak bisa menggunakan teknik routing. Untuk konfigurasi dan cara seting nya akan dibahas pada artikel selanjutnya di blog Tutorial Mikrotik Indonesia ini.

Wireless Point-to-Point Mikrotik

Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point adalah koneksi komunikasi wireless antara dua titik, dimana satu host terhubung hanya dengan satu client. Wireless Point-to-Point (P2P) Mikrotik menggunakan dua buah Mikrotik + Antena Directional (Grid, Yagi, Sectoral, dsb). Penerapan Wireless Point-to-point pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station.

Perangkat Mikrotik yang digunakan yaitu Mikrotik Outdoor yang memiliki ketahanan terhadap berbagai macam kondisi cuaca, misalnya menggunakan RB 433. Mikrotik ini nantinya akan dipasang di tower komunikasi bersama antena directional nya. Untuk pemasangan Mikrotik dan antena nya sendiri harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Line of Sight

Line of Sight (LoS) adalah Jalur lurus antara pengirim (transmitter) dan penerima (receiver) yang bebas dari penghalang. Jadi jalur udara antara AP dan client sebisa mungkin tidak ada yang menghalangi, seperti gedung, pepohonan, bukit, dll. Apabila ada penghalang maka konektivitas Wifi tidak akan maksimal, bahkan tidak akan bisa konek.

Fresnel Zone

Fresnel Zone adalah Area di sekitar garis lurus antar antena (LoS) yang digunakan sebagai media rambat frekuensi. Selain LoS yang bebas penghalang, area Fresnel Zone ini juga sebisa mungkin tidak terlalu banyak penghalang nya.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar berikut ini :

Antenna Alignment

Antenna Alignment yaitu arah dari antenna yang digunakan. Antenna client harus mengarah ke antenna AP, begitu juga sebaliknya. Sudut dan arah antenna juga harus diperhatikan, karena jika tidak mengarah dengan baik maka sinyal tidak akan diterima dengan maksimal.

Mikrotik 1 sebagai Access Point (AP)

Pada Mikrotik 1 ini digunakan sebagai AP dengan mode Bridge. Kenapa Bridge? Karena pada Point-to-Point hanya terjadi komunikasi dua arah saja antara AP dan satu Client. Jika Client nya lebih dari satu berarti itu termasuk Point-to-Multipoint. Nah, mode Bridge sendiri hanya memperbolehkan satu client saja yang bisa konek ke AP. 

Mikrotik 2 sebagai Client 

Client terhubung dengan AP via Wireless menggunakan mode Station. Pada mode Station biasa tidak mendukung L2 bridging, jadi tidak bisa digunakan untuk membuat jaringan transparent bridge wireless. Jika anda menggunakan mode Station biasa maka harus menggunakan routing, bukan nya bridge. 

Untuk konfigurasi pada Mikrotik nya, akan dibahas pada artikel selanjutnya. Maaf kalo setengah-setengah, karena admin nya lagi sibuk nyusun tugas akhir :D

Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik

Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik - Untuk dapat menggunakan fungsi wireless pada Mikrotik ada beberapa parameter setingan yang harus diperhatikan. Namun sebelum kita melanjutkan pembahasan ini ada baiknya anda baca artikel sebelumnya tentang Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik. Oke mari kita lanjut belajar Mikrotik Wireless nya.

Hal yang dibahas disini adalah tab Wireless pada setingan interface Wlan. Silakan anda buka Winbox masuk ke menu Wireless --> double klik interface wlan --> masuk tab Wireless.


  
Parameter Untuk konfigurasi minimal : 
  • Mode
  • Band
  • Frequency
  • SSID
  • Scan-List 
Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari parameter-parameter di atas :

Parameter Mode Wireless Mikrotik

 

AP modes:
> ap-bridge : mode standard untuk Access Point.
> bridge : sama seperti mode ap-bridge tetapi hanya menerima satu client.
> wds-slave : mode ap-bridge tetapi mampu untuk melakukan scan terhadap AP yang memiliki SSID yang sama dan membangun WDS link ke AP tersebut. Jika terputus maka akan dilakukan scaning ulang dan akan terkoneksi kembali.
Station modes:
> station : Mode Client paling sederhana
> station-wds : mode station yang mengaktifkan WDS bridge
> station-pseudobridge : mode station tetapi ditabahkan fungsi MAC translation sehingga interface wireless bisa dimasukkan ke dalam bridge.
> station-pseudobridge-clone : mode station yang menggunakan fungsi station-bridge- clone-mac address

Special modes:

> alignment-only : mengaktifkan mode align transmit untuk digunakan sebagai membantu pointing antenna.
> nstreme-dual-slave : digunakan jika ingin menggunakan Dual-Nstreme

Parameter Band

band : Opsi untuk menentukan standard wireless yang ingin digunakan
> 2.4ghz-b – menggunakan standard IEEE 802.11b
> 2.4ghz-b/g - IEEE 802.11g (supports also legacy IEEE 802.11b protocol).
> 2.4ghz-g-turbo - IEEE 802.11g menggunakan double channel yang kecepatan teoritisnya adalah hingga 108 Mbit.
> 2.4ghz-onlyg – hanya menggunaan standard IEEE 802.11g
> 2ghz-10mhz – variasi dari IEEE 802.11g dengan menggunakan setengah dari lebar band standard (air rate of up to 27Mbit)
> 2ghz-5mhz - variasi dari IEEE 802.11g dengan menggunakan seperempat dari lebar band standard (air rate of up to13.5Mbit)
> Turbo channel hanya support di card non-N dan hanya ada di ROS versi 2.xx,3.xx dan 4.xx.

> 5ghz – menggunakan standard IEEE 802.11a 54Mbit.
> 5ghz-turbo - IEEE 802.11a menggunakan double channel yang kecepatan teoritisnya adalah hingga 108 Mbit.
> 5ghz-10mhz - variasi dari IEEE 802.11a dengan menggunakan setengah dari lebar band standard (air rate of up to 27Mbit)
> 5ghz-5mhz - variasi dari IEEE 802.11a dengan menggunakan seperempat dari lebar band standard (air rate of up to 13.5Mbit)
> Turbo channel hanya support di card non-N dan hanya ada di ROS versi 2.xx,3.xx dan 4.xx.
> Penggunaan Band 5ghz ini harus seizin dept. kominfo, tidak boleh digunakan sembarangan.

Parameter Frequency, Scan, Scan list

frequency – Frequency yang digunakan untuk AP.
> Parameter ini akan diabaikan Jika pada pernagkat diaktifkan mode “client”.
> ssid (text) – Sebagai identitas dari jaringan wireless.
> scan-list – nilai default adalah channel ISM (standard channel) sesuai dengan band yang digunakan. > Scan list bisa berupa range, list dari channel yang dipisahkan dengan tanda comma atau bisa juga gabungan dari keduanya.
> Contoh: scan-list=default,2222,2312-2362
> Dari scan list tersebut perangkat akan melakukan scan di default channel dan beberapa range  frequency custom.
> Penggunaan custom channel bergantung dari setting “channel-mode”

Parameter Tx Rate

default-ap-tx-limit (integer; default: 0) – adalah limit traffic rate untuk pengiriman data dari AP ke tiap client (bps).
0 – berarti tanpa limit

default-client-tx-limit
(integer; default: 0) – adalah limit traffic rate untuk pengiriman data dari tiap client ke AP (bps). Hanya bekerja jika client sama-sama menggunakan mikrotik.
0 – berarti tanpa limit

Parameter Checklist

> default-authentication (default value: yes) :
Jika digunakan mode AP maka semua client yang tidak dibatasi di access-list akan diautentikasi dan bisa terkoneksi.
Jika digunakan di mode station maka wireless bisa terkoneksi ke AP manapun yang tidak dibatasi di connect-list.

> default-forwarding (default value: yes) :
Adalah parameter yang digunakan untuk forwarding traffic dari client ke client yang lain dalam AP yang sama. Bisa dibatasi lebih spesifik per clientnya di access-list.

> hide-ssid (default value: no) :

yes – jika diaktifkan maka AP tidak akan memasukkan informasi SSID pada beacon frame dan tidak akan memberikan frame balasan berisi informasi SSID jika ada permintaan informasi SSID.

no – AP akan memasukkan informasi SSID pada frame beacon dan akan memberikan informasi SSID jika ada permintaan informasi SSID.
Setting ini hanya berpengaruh jika menggunakan mode AP, sebenarnya tidak berpengaruh banyak pada security karena informasi SSID tetap dimasukkan pada frame yang lain (bukan beacon frame).

Dari Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik tersebut anda dapat mengatur setingan nya sesuai keinginan anda. Silakan anda coba sendiri. Sekian dulu tutorial mikrotik indonesia kali ini. Semoga bermanfaat :)